Never Stop Learn

Selasa, 22 Oktober 2019

8 METODE PENERJEMAHAN (STEP-7)

Metode Penerjemahan
Oleh: Afriani, S.S., M.Hum
Dengan adanya permasalahan yang timbul dalam penerjemahan, diperlukan landasan teori yang dapat digunakan untuk mengatasinya. Satu teori yang ditawarkan oleh Newmark (1988) adalah teori V diagram yang memberi delapan metode penerjemahan, seperti berikut ini.

Penekanan pada BSu
Penekanan pada BSa
Penerjemahan kata per kata
Adaptasi
          Penerjemahan harfiah
Penerjemahan bebas
         Penerjemahan setia
Penerjemahan idiomatis
        Penerjemahan semantis
     Penerjemahan komunikatif

Bentuk diagram di atas tentu memberikan arti tersendiri. Ada delapan metode, yakni empat metode penerjemahan pertama berorientasi pada BSu dan empat metode kedua berorientasi pada BSa. Menurut hemat saya, semakin jauh jarak dua metode yang bersebrangan itu, semakin jauh pula kesepadanan yang dihasilkan.
 
 Dan sebaliknya, semakin dekat jarak dua metode itu, semakin dekat pula kesepadanan yang dihasilkan. Kedelapan metode itu adalah sebagai berikut ini.

BACA JUGA : GIVING COMPLIMENT
1)             Penerjemahan kata per kata
Metode penerjemahan kata per kata mempertahankan kata demi kata TSu ke dalam TSa atau unsur leksikal BSu dipadankan dengan unsur leksikal BSa. Newmark (1988, hlm. 46) mengatakan “metode itu digunakan pada tahap awal penerjemahan (pre-translation process) untuk memahami teks yang sulit”, kemudian dicari metode lain yang tepat untuk memperoleh padanan yang berterima di dalam budaya BSa. Senada dengan Newmark, Benny (2006, hlm. 56) juga mengatakan “metode itu dianggap tidak baik, tetapi berguna sebagai proses awal dalam penerjemahan dari bahasa tertentu, misalnya penerjemahan dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia”. Menurut saya, metode itu dapat digunakan kalau bahasa sumber dan bahasa sasaran mempunyai struktur yang sama. Metode itu tidak dapat digunakan untuk menerjemahkan teks sastra yang mengandungi kata budaya, seperti contoh berikut.

TSu
Geronimo Stilton, 2004,  I’m Too Fond of My fur!
TSa
TSa alternatif
“I know what I'm doing! I am going, and I'm going right now!” I cried. “Professor von Volt needs my help! Unlike you two, I'm true gentlemouse. I don't need you!”
“Aku tahu apa Aku lakukan! Aku pergi, dan aku pergi sekarang!” Aku berteriak. “Profesor von Volt membutuhkan milikku bantuan! Tidak seperti kamu berdua, aku ini benar tikus unggulan. Aku tak butuh kamu!”
“Aku tahu yang aku lakukan! Aku tetap pergi, dan aku pergi sekarang juga!” teriakku. “Profesor von Volt perlu bantuanku! Tak seperti kalian berdua, aku ini tikus unggulan. Aku tak butuh kalian!”

Contoh di atas memperlihatkan TSa yang kaku. Terjemahan itu dianggap salah karena TSu diterjemahkan ke dalam TSa kata per kata tanpa mengubah strukturnya. Jika metode itu digunakan sebagai proses awal, kemudian dicari metode yang tepat, TSa alternatif dapat dijadikan terjemahan yang baik dan berterima di dalam budaya BSa.
BACA JUGA : SINGKATAN AVIATION
2)             Penerjemahan harfiah
Penerjemahan harfiah juga dapat digunakan oleh penerjemah di awal penerjemahan sebuah teks. Metode itu sangat membantu ketika menerjemahkan kalimat yang panjang dan sulit; setelah itu baru mencari metode lain yang tepat untuk menghasilkan TSa yang berterima. Metode itu juga dapat menghindari  kehilangan makna TSu  dalam TSa. Penerjemahan harfiah hampir sama dengan penerjemahan kata per kata karena menghasilkan TSa yang tidak lazim di dalam budaya BSa dan terlihat seperti terjemahan. Hanya saja metode itu sudah mengubah struktur BSu menjadi struktur BSa.
Menurut Newmark (1988, hlm. 95),  metode penerjemahan harfiah  sering digunakan untuk menerjemahkan kata budaya yang meliputi:
(1)   ekologi: flora, fauna, angin, dataran, dan bukit;
(2)   benda budaya (artefak): makanan, pakaian, rumah dan kota, dan alat transportasi;
(3)   budaya sosial: pekerjaan dan hiburan;
(4)   organisasi, adat, kegiatan, prosedur, dan konsep: politik dan tata kelola, agama, dan seni; dan
(5)   gerak dan kebiasaan.


Berikut ini adalah contoh penerjemahan harfiah.

TSu
Geronimo Stilton, 2004,  I’m Too Fond of My fur!
TSa
With a sob, I jumped out of the taxy. “Holey cheese! I don’t want to leave on my own!” I cried. “I need my family!”
Dengan sesenggukan  aku meloncat keluar taksi “Keju suci! Aku tak mau pergi sendirian! Teriakku. “Aku  butuh keluargaku!”

Holey cheese pada TSu di atas sebenarnya tidak dapat diterjemahkan secara harfiah karena idiom itu berhubungan dengan budaya BSu. Jadi, sebelum menerjemahkannya, penerjemah harus memahami budaya yang berhubungan dengan agama BSu. Sebaiknya, Holey cheese diterjemahkan sesuai dengan maknanya, yakni Oh Tuhan. Jika diterjemahkan dengan Keju suci, makna yang dimaksud TSu tidak terungkap dalam TSa walaupun konteksnya adalah tentang kehidupan tikus. Berkaitan dengan hal itu, dalam menerjemahkan karya fiksi, penerjemahan harfiah harus dihindari karena teks dari genre itu kaya dengan bahasa kiasan.

3)             Penerjemahan setia
Penerjemahan setia mempertahankan bentuk BSu sehingga menghasilkan TSa yang tidak lazim di dalam budaya BSa. Padahal, menurut Nida dan Taber (1974, hlm.12), “the best translation does not sound like a translation.” Menurut Benny (2008), metode itu cocok untuk teks hukum atau teks puisi karena pada keduanya memang membutuhkan BSa yang setia pada bentuk atau format BSu.
Menurut hemat saya metode tersebut dapat digunakan pada teks resmi karena seperti halnya teks hukum, jenis teks itu membutuhkan BSa yang setia pada bentuk BSu. Berikut adalah contoh penerjemahan setia dalam Buku Pedoman Tentang Sistem Pencatatan Sipil dan Sistem Vital Statistik (United Nations) diterjemahkan oleh Agus Riyanto, M.Ed (2005).

TSu
TSa
Since its advent in 1945, the United Nations has been working for the development of national statistics and improvement of their comparability.
Sejak berdirinya pada tahun 1954, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah bekerja untuk mengembangkan statistik nasional dan meningkatkan keterbandingannya.

Dari contoh di atas terlihat bahwa penerjemahnya berupaya mempertahankan bentuk BSu ke dalam BSa sampai pada penggunaan tanda bacanya.
Kemudian, kesetiaan pada bentuk BSu akan berpengaruh negatif pada terjemahan novel anak. Terjemahan yang dihasilkan menjadi kaku atau tidak indah sehingga tidak wajar di dalam budaya BSa. Keindahan TSa sangat diperhatikan dalam menerjemahkan sehingga menarik untuk dibaca. Di samping itu, bentuk BSa yang digunakan disesuaikan dengan pembacanya, yakni anak-anak.

4)             Penerjemahan semantis
Metode penerjemahan semantis lebih tepat digunakan untuk  teks ekspresif, seperti novel anak yang saya terjemahkan.  Newmark (1988, hlm. 46‒47) menyatakan, “metode penerjemahan semantis menaruh minat pada nilai estetis TSu sehingga TSa-nya pun  harus terlihat indah dan alami”. Dalam penerjemahan semantis nilai keindahan dan kewajaran serta makna yang terkandungi di dalam BSu lebih diperhatikan.
Benny (2006, hlm. 58) juga menyatakan, “seorang penerjemah sangat menekankan pada penggunaan istilah, kata kunci, atau ungkapan dalam TSu yang harus dihadirkan dalam terjemahannya”. Menurutnya, selain untuk menerjemahkan karya fiksi, metode itu juga untuk karya ilmiah. Metode itu digunakan untuk menerjemahkan istilah dalam TSu dengan tepat dari segi semantis supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Berikut ini adalah contoh metode semantis pada penerjemahan teks resmi dalam teks United States District Court yang diterjemahkan oleh Nike Sinta Karina, S.S.

TSu
TSa
This Court has jurisdiction under ... (federal question); and ...  (copyright).
Pengadilan ini memiliki yurisdiksi berdasarkan ...(perkara berada di bawah jurisdiksi pengadilan federal atau federal question) dan ... (hak cipta).

Federal question dipadankan dengan perkara berada di bawah jurisdiksi pengadilan federal atau federal question di dalam TSa. Istilah TSu itu telah diterjemahkan ke dalam TSa secara akurat dari segi semantis sehingga tidak menimbulkan kesalahan tafsir.

5)             Adaptasi
Metode adaptasi bertolak belakang dengan metode kata per kata. Adaptasi  menekankan pada pesan bukan pada kalimat. Metode itu menghilangkan budaya BSu dan menggantikannya dengan budaya BSa sehingga sudah dapat dipastikan bahwa TSa dirasakan sebagai teks asli BSa. Salah satu contoh diberikan oleh Benny (2008, hlm. 56) adalah “adaptasi yang dilakukan pada nama binatang dari Eropa diganti dengan nama binatang dari Indonesia (rubah menjadi kancil meskipun sifat liciknya berbeda), dan makanan dari Eropa diganti dengan makanan dari Indonesia (fromage pada cerita burung gagak yang ditipu oleh rubah menjadi dendeng pada cerita burung gagak yang ditipu oleh kancil).”

6)             Penerjemahan bebas
Penerjemahan bebas hanya menekankan pada pesan TSu. Metode itu tidak melakukan penyesuaian budaya BSu dengan budaya BSa. Hal itu yang membedakannya dari adaptasi. Menurut pendapat saya, penerjemahan bebas tidak cocok digunakan dalam menerjemahkan karya fiksi terutama teks puisi karena metode itu hanya mementingkan pada pesan TSu tanpa memperhatikan bentuk dan keindahan TSa.
Penerjemahan bebas juga dapat dilakukan ketika menerjemahkan teks atas permintaan pembaca yang hanya ingin mengetahui isi teksnya. Dengan demikian, penerjemah tidak perlu menyesuaikan terjemahannya dengan bentuk budaya  BSa dan bentuk BSu.
Berikut ini adalah contoh penerjemahan bebas pada syair lagu yang berjudul When I Need You yang diterjemahkan oleh Rahmat Budiman (2011).

TSu
TSa
When I need you
I just close my eyes and I’m with you
And all that I so want to give you
It’s only a heart beat away
Jika ku merindukan dirimu
Kupejamkan mata ini dan kurasakan kehadiranmu di sisiku
Kuingin memberimu segala yang kupunya
Kau terasa begitu dekat dengan diriku

Terjemahan di atas hanya mementingkan pesan TSu. Penerjemahnya lebih mementingkan isi yang disampaikan oleh TSu sehingga dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca sasaran.

7)             Penerjemahan idiomatis
Metode penerjemahan idiomatis sangat cocok digunakan untuk menerjemahkan karya fiksi. Metode itu berupaya mencari padanan ungkapan idiomatis TSu dengan ungkapan idiomatic yang ada di dalam BSa sehingga menciptakan TSa yang berterima di dalam budaya BSa.
Newmark (1988) mengatakan bahwa semua bahasa figuratif, antara lain metafora, simile dan ungkapan idiomatis, termasuk ke dalam bahasa kiasan (figurative expression). Metode itu memegang peran penting dalam menerjemahkan bahasa kiasan yang terdapat di dalam novel anak A Little Princess. Salah satu contoh penggunaannya seperti berikut ini.

TSu
TSa
“Tell me more!” Lottie ordered. Sara’s stories were as good as candy.
“Ceritakan lagi!” perintah Lottie. Cerita Sara terasa semanis permen bagi Lottie. (Par. 2.66)

Simile TSu di atas dipadankan dengan simile yang memiliki makna yang sama dengan simile TSa. Kehadiran simile itu di dalam TSa akan menambah nilai estetis.

8)             Penerjemahan komunikatif
Penerjemahan komunikatif sangat mementingkan makna TSu. Makna itu dikomunikasikan sedemikian rupa sehingga isi dan bentuknya dapat dipahami dan diterima di dalam budaya BSa. Menurut Newmark (1988, hlm. 47), “metode penerjemahan komunikatif berupaya sedapat mungkin menyampaikan makna kontekstual TSu sehingga TSa dapat diterima dan dipahami oleh pembaca sasaran”.
Metode yang paling dekat dengan penerjemahan semantis itu berbeda dengan penerjemahan bebas. Penerjemahan bebas hanya mementingkan makna tanpa melakukan penyesuaian dengan budaya pembaca sasaran, sedangkan penerjemahan komunikatif masih menghadirkan unsur budaya BSu di dalam TSa walaupun tidak lagi terikat dengan struktur dan budaya BSu. Contoh berikut ini diambil dari teks drama yang berjudul Arms and The Man karya George B. Shaw (1894).

TSu
TSa
... but is determined to be a Viennese lady, and to that end wears a fashionable tea gown on all occasions.
... tetapi berkeinginan menjadi seorang wanita Wina sehingga  mengenakan gaun pesta modis pada semua acara

Frasa tea gown dipadankan dengan gaun pesta. Penerjemah berupaya mengomunikasikan maknanya tanpa menghadirkan unsur budaya BSu. Jika frasa TSu dipadankan dengan penyesuaian dengan budaya BSu, yakni gaun teh, terjemahan yang dihasilkan diasumsi tidak akan dipahami oleh pembaca TSa. Padanan yang dipilih harus dipahami oleh pembaca TSa dengan menyesuaikan dengan budaya BSa.
 Setelah menguraikan delapan metode di atas, dapat dikatakan bahwa metode penerjemahan dapat dipilih oleh penerjemah sesuai dengan tujuan penerjemahan dan pembaca terjemahan. Keputusan penerjemah itu bergantung pada hasil audience design dan need analysis yang sudah dilakukan sebelumnya. Menurut Benny (2006, hlm. 55) penerjemahan sering didasari oleh “audience design” dan diikuti oleh “needs analysis”. Maka, ia  menyatakan “penerjemahan harus berorientasi kepada “klien” (client oriented) atau berorientasi pada calon pembaca” (2006, hlm. 67). Audience design digunakan oleh  penerjemah untuk memperkirakan siapa yang menggunakan terjemahannya, kemudian untuk tujuan atau keperluan apa terjemahannya (need analysis). 

Share:

34 comments:

  1. Sangat bermanfaat...bagi mahasiwa/mahasiwi Univ Terbuka. Trimakasih ya om

    BalasHapus
  2. Tongkrongan mahasiswa UT nih heu heu

    BalasHapus
  3. Berasa kek dialam lainn masuk situs web ini

    BalasHapus
  4. very nice friend

    BalasHapus
  5. mantebs bingittt...share lagi dong bosku

    BalasHapus
  6. mkasih banget buat tulisan ini sangat membantu pemahan saya, saat ini saya sendang melaksanakan tugas akhir saya menyangkut soal metode translation.

    BalasHapus
  7. Captain Pororo Mumu31 Januari 2023 pukul 09.41

    good vibes friends...

    BalasHapus
  8. Gue suka ni...easy

    BalasHapus
  9. good sis..bro..

    BalasHapus
  10. Ok thanks sis

    BalasHapus
  11. Trims sis

    BalasHapus
  12. Very nice information

    BalasHapus
  13. Need more explanation...aia

    BalasHapus
  14. Iklannya banyak bgt dah

    BalasHapus
  15. Trmksh bwrmanfaat bgt

    BalasHapus
  16. Trimakasih kak

    BalasHapus
  17. thanks gan

    BalasHapus
  18. Trims kak i love ut

    BalasHapus

Arsip Blog