Never Stop Learn

Tetaplah menjadi penimba ilmu dan menyebar kebaikan

Proactive-Calm-Responsible-Confidence-Creative.

Never Stop Learn

Tetap Semangat Jangan Pernah Menyerah

Amazing

Good Learner

MILITERDEFENCE.COM

Do the Best Let God do the rest

Tampilkan postingan dengan label RESENSI BUKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RESENSI BUKU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Januari 2019

REVIEW : BABAD DIPONEGORO




Judul                   : Babad Diponegoro
Pengarang           : Diponegoro
Penerbit buku      : NARASI Yogyakarta
Tahun terbit         : 2016
Jumlah halaman  : 679 halaman

Sinopsis buku
Babad Diponegoro merupakan babad karangan Pahlawan Nasional  Pangeran Diponegoro dimasa pengasingannya di Manado Sulawesi Utara, Naskah ini diselesaikan dalam kurung waktu satu tahun yaitu pada tahun 1831-1832.  

Naskah Babad Dipanegoro telah  mendapatkan pengakuan dunia melalui Unesco pada tahun 2013 sebagai memory of the world. Babad ini mengisahkan perjalanan mulai dari Nabi Adam hingga Rasulullah SAW, kemudian Berkisah raja-raja di Jawa Hingga Majapahit dan Runtuhnya Majapahit. Bagian selanjutnya menceritakan tentang para wali songo, kerajan demak, pajang, mataram islam  hingga sampai perjanjian Giyanti. 

   Pada babad  Dituliskan kisah pangeran Diponegoro dari awal kelahiran hingga pada tiba perjuangan mengusir penjajah. Penjajah Belanda yang congkak dan sombong telah menindas rakyat dan terlalu mencampuri urusan kerajaan. Puncaknya adalah ketika belanda dibawah pimpinan Jenderal Decock memerintahkan prajuritnya untuk memasang pathok jalan yang melewati makam leluhurnya. Pangeran Diponegoro pun makin yakin untuk memerangi pasukan belanda yang rakus dan tamak. Pangeran Diponegoro mendapatkan banyak pengikut dan Pasukan dari seluruh penjuru tanah jawa setia mendukung pangeran diponegoro melawan Belanda. 

  BACA JUGA : BUNG KARNO DIANTARA SAKSI DAN PERISTIWA


 Pangeran Diponegoro bergelar Kanjeng Sultan Abdul Hamid Herucakra. Nama kecilnya adalah Raden Mas Ontowiryo dan rakyat jawa banyak menyebutnya Ratu Adil yang sangat dicintai rakyat dan wong cilik. Pangeran Diponegoro berjuang sungguh-sungguh melawan kesewenang-wenangan Belanda, ia tidak sudi didikte oleh Belanda, dan memilih menyingkir dari keraton menuju tegal reja. Dua Kali Pangeran Diponegoro menolak untuk dinobatkan sebagai Sultan menggantikan ayahnya (Hamengkubuwono III) sehingga takhta Ngayogjakarta Hadiningrat jatuh ketangan adiknya-adiknya.

BACA JUGA : BUKU LONG RANGE PROJECTION
 

  Kanjeng Pangeran Diponegoro atau Sultan Abdul Hamid adalah seorang bagsawan yang rela meninggalkan gemerlap kemewahan keraton dan lebih memilih tinggal di Tegal Rejo hidup sederhana demi menentang pengaruh Belanda terhadap petinggi Kerajaan. Sama sekali Kanjeng Pangeran Diponegoro tidak menginginkan tahta. Namun rakyat yang menobatakan kanjeng pangeran sebagai Ratu Adil yang teguh dan berani melawan penjajahan Belanda sehingga Belanda takut dan benci pada Pangeran Diponegoro. 
Dalam babad ditulisakan banyak tokoh yang mendukung perjuangan Kanjeng Diponegoro seperti Kyai Mojo, Pangeran Mangkubumi, Temunggung Sacanegara, Kyai Kuwaron, Usman Alibasyah, Pangeran Ngabehi, Pangeran Natapraja, Raden Jayanegara, Raden Pangalasan, Tumenggung Mertalaya, Kyai Abdul Rauf, Syekh Abdullatif, Kyai Muhammad Santri, Syekh Abdul Fatah, Tumenggung Jayapenawang, Kyai Cakra Negara, Kyai Wiryanegara, Tumenggung Kertanegara, Tumenggung Bunjaladriya, Tumenggung Mertadiwirya, Mas Tumenggung Badrayudha, Kyai Tumenggung Mondalika, Tumenggung Surajenggala, Sumadiwirya, Mas Haji Muhammad, Mas Arjawijaya, Lurah Suragama, Tumenngung Busongeb, Syekh Haji Mustafa Basah, Tumenggung Puthut Lawa, Haji Abdullah Baruddin, Raden Riya Sindureja, Waden Wiryawitruna, RadenvJayawinata, Raden Resakusuma. Tumenggung Ranupati, Tumenggung suranegara, Sudiranegara, Nitinagara, Raden Danukusuma, Tumenggung Cakradipura, Dolah Haji Muda, Pangeran Singasekar, Kanjeng Gusti Muhammad Iman, Abdul Kamil, RadenvMertalaya, Kyai Ajali, Syekh Bulawi, Tumenggug Ondakara, Mas Panji Surasantika, Raden Mas Panji Kancil, Panji Mukhadinata, Dolah Prawiradirja.

BACA JUGA : SATU PELURU SATU MUSUH JATUH

  Pasukan Diponegoro sendiri disusun mengadopsi pasukan janisari kesultanan Turki Ustmani, Panglima disebut basah (pasah), kemudian pasukan bulkio, dan turkiyo. Untuk kemamampuan pasukan diponegoro sudah tidak perlu diragukan lagi...Hampir seluruh peperangan  pasukan pangeran diponegoro mampu melumat pasukan belanda dan pasukan kasunanan surakarta yg bekerja sama dengan belanda.
   Didalam babad juga disebutkan para prajurit diponegoro yang gugur harum baunya, sedangkan para prajurit belanda dan prajurit kasunanan surakarta busuk baunya.Pangeran Diponegoro memperoleh dukungan dari masyarakat yang luas di sepangjang pulau jawa.





Source : Babad Diponegoro
Authors :ririd_pahlawi/ig
Share:

Arsip Blog